Second Home

24 September 2013

Seperti halnya mengajukan KPR (Kredit Perumahan Rakyat), ‘membangun’ rumah kedua di dunia maya yang khusus menampung aspirasi saya di dapur dan sekitarnya pun perlu persiapan matang.

iPod 168

“Lemon and Friend”

Cita-cita saya yang lahir beberapa tahun lalu belum tercapai juga. Sepele sih, saya selalu gak pede. Padahal, bikin blog masak-memasak mungkin ga sehoror peperangan antara ManusiaVsZombie. 😦

Dan kali inipun saya beralasan menahan RAPBN (Rancangan Aspirasi Perdapuran dan Belanja Negara) karena nunggu genap umur 27 tahun (apa hubungannya? ga ada sih, namanya juga ngeles hehehe). Tapi, konon di umur kita yang gak tua-tua banget segitu, manusia berhenti nambah umur (ini kata oknum di PHG). Balik lagi ke pokok permasalahan, intinya ya begitu.. saya rasa upaya mempercepat bukan mempertakut *Vickynisasi*, pembangunan rumah ke dua itu perlu. Di samping menyalurkan energi berlebih, blog baru saya itu nanti secara mingguan diisi hal-hal yang ringan, gak mikir berat-berat. Semacam rumah yang menampung beragam aspirasi “pekan nafsu makan”.

Oh ya, untuk selanjutnya, saya akan kembali mengabarkan situasi terakhir dari lokasi kejadian. Demikian dapat saya laporkan, kini kembali ke studio.

-___-

Advertisements

Little Tiny Disturbance

6 August 2013
20130920-130210.jpg

“Tanpa Nama” – Paperclip

Energi saya malam ini sepertinya sedikit liar, gak tahu, mungkin salah nelen makanan ringan. Tapi tenang, ini bukan mau curhat cinta-cintaan. Di samping eike ga lihei, pun saya cukup tahu diri untuk tidak membuat kalian muntah-muntah hihih.

Baiklah saya mulai menyusun kalimat pengantar menuju objek penelitian (kayak skripsi).

Beberapa pekan lalu, anak desa ini lagi gandrung merangkai paperclip alias penjepit kertas yang bagi abege era ’90an adalah keren benda imut berwarna ngejreng itu nangkring selusin di krah baju sekolah. Mungkin saya titisan mereka..

Paperclip berbagai ukuran, bentuk, dan warna itu, singkatnya dengan amat mudah saya dapatkan di toko buku tanpa satu kendala yang berarti. Tak lupa hardware palu, gegep, dan tang amatir pun saya temukan di pojok toko ATK Plaza Indonesia tanpa rintangan yang menghadang. Ini contoh kemerosotan pencapaian seorang backpacker. Jangan ditiru ya!

Kemudian saya merangkai beberapa bentuk yang sebenarnya tak berbentuk-bentuk amat, dari Si penjepit kertas itu. Ada yang konon mirip serangga, cumi-cumi, laba-laba, dan robotrobotan. Semuanya kawe.

"Bugs" - Paperclip

“Stanley” – Paperclip

"Spidtopus" - Paperclip

“Spidtopus” – Paperclip

"Marley" - Paperclip

“Marley” – Paperclip

"Tanpa Nama" - Paperclip

“Tanpa Nama” – Paperclip

"Siapadia" - Paperclip

“Siapadia” – Paperclip

Rada emeizing norak sih ketika benda-benda asing itu lahir dari karya tangan saya sendiri. Jarang-jarang iseng sampe merambah ke dunia pertukangan.

Tapi, saya mencurigai diri sendiri, jangan-jangan kalakuan saya ini gara-gara habis nonton film Pasific Rim. Saya anggap kalian ngeuh dan hapal dengan ikon rada ngehits yang satu itu. Populer di masanya, masa kejayaan kekinian (konon) yang serba ‘matic’. Mbuhlah..

Semua mungkin sepakat kalau secara visual film itu lumayan, meski ada kurang-kurang soal cerita yang cengeng mah ya masih bisa dimaafkan. Lagian siapa saya berhak menghakimi karya orang yang bukan kapasitas saya sebagai manusia baru nongol kemarin sore?heheh.

Yang ngeselin-yang saya ingat-adalah nama sang robot superhero bernama Striker Eureka. Namanya kayak mbak-mbak kekasih sensei saya di kelas les bahasa. Si Eureka alias Si Striker inilah yang bikin saya tidak tidur selama pertunjukan berlangsung. Bukannya saya berpaling hati dari Si Gipsy sebagai lakon utamanya. Tapi Eureka membuat saya terjebak mikir yang berat-berat. :-s

Striker mengingatkan saya pada Yoshihiro Francis Fukuyama ketika dalam perenungannya melonjak dari kursi dan berteriak “Eureka!”, lalu mengumumkan pada dunia soal kapitalisme-liberal sebuah The End of History.

Fukuyama ‘menyaksikan’ tembok Berlin runtuh, Soviet berantakan, dan kapitalisme mendunia. Ia yakin telah menemukan ruang akhir sejarah seperti halnya Karl Popper saat menegaskan masyarakat terbuka (open society) yang diikuti oleh murid fanatiknya George Soros bahwa dunia telah menemukan kisah akhir proses sejarah, kapitalisme liberal adalah sebuah ideologi alternatif hanyalah impian kosong.

Mungkin ini yang disebut sebuah kondisi di mana sosialisme sudah punah, ideologi alternatif tamat.

Pada titik inilah Fukuyama mencapai tahapan fatalistik dalam menemukan kebenaran filsafatnya. Dengan abrakadabra dia menghentikan laju sejarah, melemparkannya ke ruang bejana yang vakum, lalu meninggalkan laboratorium sembari tertawa merasa sudah menemukan inti kebenaran.

Seandainya Fukuyama boleh saya terjemahkan, mungkin caranya itu merupakan upaya melatih pikiran manusia sampai pada titik nol, sampai pada ruang bebas tanpa prasangka,

Sebab, katanya, setelah mencapai titik itu seseorang bisa melihat bahwa bahasa memiliki alat-alat hermeneutika atau penggalian atas makna yang tidak ditutupi oleh asumsi-asumsi.

Seharusnya pula saya tidak perlu jauh-jauh (atau mungkin gak ke mana-mana) mental ke panggung sejarah. Ini kan soal kesenangan menonton film dan membuat benda-benda iseng. Jauh ya, jauh nyasar-nya.

 

 


Yuppies

1 August 2013

Yuppies (Young Urban Professionals)

Kaum Yuppies sependek yang saya ingat, mereka adalah broker saham, investments manager, akuntan, bankir, arsitek dan kelas menengah intelektual lainnya. Pada awalnya juga mereka memberontak sistem beku kapitalisme, mereka membangun struktur baru kapitalisme yang memberontak pada konglomerasi modal besar, kaum Yuppies ini kemudian menang pada tahun ’80an, yang dikenal sebagai dekade Free Liberalism, dekade Privatisme ala Thatcherian. (CMIIW).

Para intelektual progresif ini pelan-pelan menjadi kelas menengah yang mapan, kelas menengah yang kemudian berkompromi pada pemodal besar. Mereka semacam klik terbesar agen konglomerasi.

Kaum Yuppies membangun benteng neoliberalisme yang menjadikan mereka serdadu paling ganas dari sistem pasar bebas. Entahlah, saya sudahi luapan energi yang ngasal ini. :-s


Takhayul

1 August 2013
"The witch and The Dwarfs" - Basil seeds, chili

“The witch and The Dwarf” – Basil seeds, chili

“Ulah calik dina lawang panto bisi nongtot jodo.”

“Ulah mindeng mandi ti peuting bisi jadi parawan kolot.”

Pamali!

Pada bingung artiin bahasa itu? Tenang, saya kasih nih terjemahannya dari narasumber lumayan credible yaitu mantan Ketua Karang Taruna di desa yang sekarang hijrah ke Jakarta. FYI, sebagai orang Sunda dia nggak murtad-murtad amat dibandingin temen saya yang di PHG heheh (nanti saya ceritain di kesempatan yang lain).

Arti paribasa itu adalah:

“Jangan duduk di gerbang pintu, nanti susah jodoh.”

“Jangan sering mandi malem-malem, nanti jadi perawan tua.”

Sebagian kita pasti tidak asing dengan ragam seloroh yang bernada seolah-olah sakti itu. Bagi manusia-manusia yang dibesarkan di era keterbukaan informasi kekinian itu bisa jadi disebut pembodohan. Reaksi spontan anak muda yang wajar dari semangat penampikan massal. Mbuh..

Ibu saya dan ibunya seorang takhayul revolusioner. Saya ambil contoh diri sendiri, (maaf lagi-lagi narcissism detected), kalau lagi khilaf, kadang percaya-percaya aja. Mungkin di jaman nenek saya baheula, motivator ulung belum selihai Mario Teguh dalam merangkai kalimat Tuhan menjadi ear-catching sehingga kelihatan bijak, susah ditebak, misterius dan (semoga tidak) kagetan. Sebagai individu dewasa muda pecinta imajinasi, saya merasa perlu mengambil kenyamanan dan keamanan dari beberapa takhayul. Karena di beberapa situasi dan kondisi, ketidaksengajaan itu malah menjadi keberuntungan hahaha. Entahlah, saya hanya mencoba menyesuaikan.

Kalau perlu mengambil contoh agak jauhan ke Cina, misalnya, orang sana memanfaatkan takhayul untuk membalaskan dendam sejarah terhadap Jepang di bidang industri otomotif.

Orang Cina tidak mau beli mobil-mobil Jepang. Mayoritas orang di Beijing punya kebiasaan memasang foto Mao Tse-tung di depan mobil mereka agar mobilnya tidak tabrakan. Menurut mereka, malaikat maut takut sama gambar ketua Mao, gemetar dan akan lari terbirit-birit bila lihat gambar Mao.

Ini bukan kebodohan bagi bangsa Cina. Tapi ini sebuah terobosan budaya di mana rasionalitas komunisme dijadikan alat dasar untuk penghancuran takhayul bagi masyarakat walaupun kita membaca itu sebagai takhayul juga. Masa’ malaikat takut sama gambar manusia, sudah mati pula, ini sama takhayulnya kalau kita duduk di pintu maka bakal susah jodoh. Karena yang bener tuh ngalangin orang lewat woi! 😀


A Letter to The Moon

16 July 2013

If you can find one friend in your lifetime that you can trust with your secrets, who accepts ‘all’ of you, does not judge you, then I reckon you are truly blessed.

iPod 992

“Louly Fish” – R.I.P

11.00 PM

On an overcast day I sit here at my computer tapping away this message to you, hoping we can meet up over the holidays sometime soon.

I went down to the mini library-room today to get some more books out and then over to the Aksara where I picked up a few things that I have been meaning to get, shampoo etc…

It was great chatting to you last night, guess what I still have the sore tummy, I think its going around as I have been feeling a bit off colour since suheri day but I hope its not like the bug you have had. 😀

2012 has been a challenging year on many levels . And I am not one to make resolutions, only because I believe life is a beautiful mystery.

There are many things I have no control over. Rather I am person to see every day as an opportunity to become a better person and follow my dreams. Whether I achieve my dreams is not that important. But the fact that I have tried my best.

*****

Because you understands me, and gives me wonderful advice, and accepts all of me — the good and the bad. Thank you sist. Just

Hmm one more thing your quote is so true, “little bit of kindness goes along way” and I know you are one person who knows how to make me laugh. I had tears in my eyes this afvo from all that giggling.

I had a lovely day, a bit of everything, springcleaning included hehehe. I then ate far too much when I miss you 😀

But not long, next year after first semester, and then I can have my life back hihihi.


26

8 July 2013

“Yours” – Chocolate cup cake by my dad

Selamat menunaikan ibadah puasa! Eh besok atau lusa sih? *mbuhlah, saya sudah empat bulan mematikan–dengan santun dan penuh konsentrasi–televisi di kosan saya* (kudet gak apa-apa, asal tetep kewl) hehe..

Tapi, sebelum itu saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya sendiri. Yaay! Hip-Hip Hore!..

Ini adalah tahun pertama saya lewat seperempat abad, alias 26 tahun. Hmm usia yang (konon) lewat dikit dari kegalauan hidup sebagai perempuan dewasa muda *tsaah.. Dulu pernah teman saya yang wartawan vivanyus bilang, bahwa umur 25 tahun cewek berada pada titik puncak kegalauan terhormat. Saya gak paham persis maksud beliau apa, tapi saya takzim dengan prase-nya itu, kedengaran keren, kan?

Jadi itu yang memengaruhi saya untuk semakin deg-degan menyongsong upacara tadi malam (yang tentu saja tidak serius). Sumpah! Melototin jam secara tidak sadar itu pekerjaan yang meletihkan, menggiring saya kepada mood yang eruptif, apatis, agony. Campur-campur seperti saat saya  bingung mewarnai hihih.

Dan saat jam dinding berdenting lewat jam 00.00 waktu indonesia bagian barat rada ke utara dikit, perasaan itu lepas juga pemirsa! Seraya menghela, saya lega akhirnya umur 26 juga hahaha. Padahal apa coba, nothing special tho? Biasa-biasa aja. Bumi tetap berputar, matahari tetep dari Timur ke Barat, Si Emang sayur tetep teriak penuh antusias di pagi hari menjaja cabai kriting. Yawes.

Begini tho rasanya usia 26. Gak nyangka, Sang Pemilik Hidup memberikan saya perpanjangan waktu di dunia yang bodor ini. Kesempatan yang tidak berulang. Bersyukur, ya harus dong 🙂

Lantas, bagaimanakah saya memaknai umur 26 tahun ini? Benarkah tambah usia berhubungan dengan kerutan? *gaya pembaca narasi gosip* :p

Oh, tentu, tentu saja tidak ada makna kesan, petuah, kata-kata bijak, nilai moral dari saya, seperti biasa. Yang pasti 26 adalah angka setelah 25 juga hasil 13×2. Demikian.

Waktunya makan siang! 😀


(Bukan) Soal Cinta

20 October 2012

“Sita is abducted by the king Ravana” – Wikipedia.org

Kapan terakhir kali saya bicara soal cinta? Ini bentuk pertanyaan yang tidak bertanya 😀

Mungkin sejak enam tahun lalu. Bukan menghindari tema-tema cinta atau segala romantika di dalamnya untuk jadi bagian catatan kecil ini. Bukan pula karena canggung dengan stigma menye-menye yang kadung terbentuk di luaran sana. Toh saya tidak begitu antusias perihal ekspektasi orang lain terhadap saya. Sebenarnya, memang tak ada alasan persis. No answer is the answer.

Saya baru membaca (lagi) Ramayana Reborn, komik hyper-reality soal manusia masa depan berbasiskan cerita Ramayana setelah dunia dihancurkan oleh perang nuklir. Kecuali ekplorasi itu, tidak ada yang baru yang menarik buat saya. Drama perebutan kekuasaan disisipi romantika percintaan yang sangat menjemukan. Semacam menekuri romansa Rama, Sita (Shinta) dan Rahwana tetapi dari perspektif “protagonis”. Entahlah, saya hanya bosan.

Penulis itu, mengapa tak ada yang menuturkan sudut pandang ketokohan Rahwana. Mungkin akan menjadi rasa baru bagi khalayak yang doyan komplen seperti saya misalnya. Mulai saja dari cinta Rahwana kepada Sita.

Rahwana, dialah seorang pejuang cinta, sesungguhnya. Dari tokoh Rahwana, kita menjadi tahu bahwa setiap orang pasti memiliki cinta sejatinya, entah yang ia miliki (nikahi) atau tidak. Mencintai Sita adalah takdir Rahwana.

Izinkan saya untuk membuat Anda semakin muntah-muntah ya.. 😀

Orang kadang-kadang menikah karena keadaan. Maka berbahagialah orang yang diberikan hadiah oleh Tuhan untuk menikahi orang yang dicintainya sejak awal, orang yang telah ditentukan menjadi takdirnya. Menikah itu nasib, tapi cinta itu takdir. Siapa yang mampu melawan takdir?

Tuhan selalu menyimpan takdir cinta itu di dalam rindu setiap orang. Dan orang yang berani adalah orang yang berjuang untuk mewujudkan takdir itu sebagai hadiah, bukan sebagai gelisah yang ia simpan di laci-laci langit kenangan.

Maka Rahwana telah menunaikan takdirnya untuk mencintai Sita. Cukup itu saja. Soal akhir cinta yang tragis, justru itu merefleksikan suatu pengorbanan. Tak ada yang salah dengan itu. Karena, pengorbanan, di satu waktu, adalah sesuatu yang layak bagi cinta.

Demikian. Terima kasih.

Silakan, muntah-muntah dilanjutkan :p