Problem Rejeksi Hati Setelah Operasi

Dalam transplantasi liver, kemungkinan rejeksi (penolakan) hati baru hanya 1,6 persen. Namun, pasca operasi dokter harus terus memantau perkembangan kondisi pasien secara ketat untuk mengantisipasi risiko infeksi dan gangguang organ lain.

Seorang pasien yang menjalani transplantasi, tubuhnya akan mengenal hati yang baru bukan sebagai hati sendiri. Tubuh secara alami berusaha menyingkirkan atau menolak hati baru tersebut. Pasien tersebut akan diberi obat untuk mencegah penolakan.

Sekitar 60 persen rejeksi ringan terjadi pasca operasi. Dalam kasus penolakan yang fatal jarang terjadi. Menurut dokter Tjhang, pada prinsipnya rejeksi ada dua macam, yaitu pertama, tubuh pasien yang tidak menerima organ hati dari orang lain, dan kedua, organ hati pendonor yang menolak tubuh si pasien.

“Kalau kategori yang kedua itu yang berat, kalau terjadi penolakan seperti itu tamatlah riwayat,” kata dokter Tjhang. Sedangkan golongan reksi pertama relatif dapat diatasi dengan obat-obatan antirejeksi.

Rejeksi memang biasa terjadi dalam tiap operasi transplantasi organ. Tetapi, Tjhang mengungkapkan, risiko kematian akibat rejeksi hati tingkat tinggi hanya 1,6 persen.

“Karena satu jam sebelum ke meja operasi, pasien sudah minum satu kapsul obat antirejeksi,” imbuhnya. Setelah operasi dosis pemberian obat Soebagijo dan Nidtjat misalnya, masing-masing tentu berbeda.

Tjhang yang menangani Soebagijo dan Nidjat sudah sangat paham takaran formula keduanya. Selama proses perawatan, dokter memang tidak dapat mengendalikan hal-hal yang kemungkinan terjadi. Bukan kesalahan, tetapi itu bagian dari risiko.

“Pasien harus patuh untuk kontrol, sehingga kalau ada sesuatu bisa kita ketahui lebih dini dan segera melakukan koreksi,” kata Tjhang. Meskipun dengan obat anti-penolakan (immunosuppressants), masih banyak pasien mengalami setidaknya satu episode penolakan, sementara mereka masih dalam masa penyembuhan dari operasi.

Episode tersebut dapat terjadi setiap saat, tetapi yang paling sering selama enam bulan pertama setelah pembedahan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda penolakan, termasuk kelelahan, atau suhu yang lebih besar dari 101 derajat F (38,3 derajat C).
Tanda lain hanya dapat diukur dengan tes darah rutin, termasuk nyeri di hati dan peningkatan kadar fungsi hati. Adanya salah satu tanda-tanda ini tidak selalu terjadi penolakan.

Thjang menjelaskan, secara teknis bila diduga terjadi penolakan, resipien akan menjalani biopsi hati untuk konfirmasi terjadinya penolakan. Penolakan dapat ringan sampai serius. Jika dokter menentukan bahwa tubuh menolak hati baru, obat perlu diubah.

Sementara itu, risiko kemungkinan infeksi setelah transplantasi hati. Infeksi merupakan ancaman bagi setiap pasien cangkok hati. Pemberian immuno supresan mencegah terjadinya penolakan hati baru, tapi obat tersebut menurunkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi.

Sitomegalovirus (CMV) merupakan salah satu virus yang sering menyebabkan infeksi. Infeksi ini dapat menyebabkan penyakit seperti flu atau bahkan tanpa gejala.

“Infeksi dapat dicegah dengan selalu mencuci tangan setiap kali masuk dan meninggalkan ruangan perawatan dan memastikan bahwa pengunjung dan profesional perawatan kesehatan melakukan hal yang sama,” papar Thjang. Mencuci tangan adalah cara paling efektif untuk mencegah penyebaran infeksi.

Paru-paru adalah organ paling rentan terganggu akibat transplantasi. Dua hal yang dapat menyebabkan paru-paru kolaps (atelektasis) yaitu akibat obat yang digunakan untuk membantu anak tidur selama operasi, dan periode panjang bed rest setelah operasi.

Ginjal pasien juga menjadi perhatian tim dokter. Beberapa pasien mengalami masalah ginjal setelah pembedahan. Kondisi ini biasanya reversibel. Pada kasus yang jarang, hemodialisis diperlukan sampai ginjal mulai bekerja kembali.

Beberapa pasien memiliki masalah dengan saluran empedu dan harus dilakukan drainase dan tes yang dilakukan untuk memastikan saluran empedu bekerja dengan benar. Empedu tak luput dari pengawasan dokter.

Ketika hati akan diangkat dari donor, ia ditempatkan dalam es. Meskipun perawatan dan pencegahan telah dilakukan sebelum transplantasi, ada saat-saat ketika hati baru tidak “bangun” setelah operasi. Hal ini disebut non-fungsi primer. Jika ini terjadi, pasien perlu segera ditransplantasikan.

Selain itu, perdarahan merupakan komplikasi pasca operasi umum yang terjadi pada setiap pembedahan apapun. Kadang-kadang diperlukan operasi tambahan untuk menghentikan pendarahan berat. Tapi, ini dapat dicegah oleh dokter ahli bedah yang sudah berpengalaman.

Keterangan foto: Diambil dari google.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: