Takhayul

"The witch and The Dwarfs" - Basil seeds, chili

“The witch and The Dwarf” – Basil seeds, chili

“Ulah calik dina lawang panto bisi nongtot jodo.”

“Ulah mindeng mandi ti peuting bisi jadi parawan kolot.”

Pamali!

Pada bingung artiin bahasa itu? Tenang, saya kasih nih terjemahannya dari narasumber lumayan credible yaitu mantan Ketua Karang Taruna di desa yang sekarang hijrah ke Jakarta. FYI, sebagai orang Sunda dia nggak murtad-murtad amat dibandingin temen saya yang di PHG heheh (nanti saya ceritain di kesempatan yang lain).

Arti paribasa itu adalah:

“Jangan duduk di gerbang pintu, nanti susah jodoh.”

“Jangan sering mandi malem-malem, nanti jadi perawan tua.”

Sebagian kita pasti tidak asing dengan ragam seloroh yang bernada seolah-olah sakti itu. Bagi manusia-manusia yang dibesarkan di era keterbukaan informasi kekinian itu bisa jadi disebut pembodohan. Reaksi spontan anak muda yang wajar dari semangat penampikan massal. Mbuh..

Ibu saya dan ibunya seorang takhayul revolusioner. Saya ambil contoh diri sendiri, (maaf lagi-lagi narcissism detected), kalau lagi khilaf, kadang percaya-percaya aja. Mungkin di jaman nenek saya baheula, motivator ulung belum selihai Mario Teguh dalam merangkai kalimat Tuhan menjadi ear-catching sehingga kelihatan bijak, susah ditebak, misterius dan (semoga tidak) kagetan. Sebagai individu dewasa muda pecinta imajinasi, saya merasa perlu mengambil kenyamanan dan keamanan dari beberapa takhayul. Karena di beberapa situasi dan kondisi, ketidaksengajaan itu malah menjadi keberuntungan hahaha. Entahlah, saya hanya mencoba menyesuaikan.

Kalau perlu mengambil contoh agak jauhan ke Cina, misalnya, orang sana memanfaatkan takhayul untuk membalaskan dendam sejarah terhadap Jepang di bidang industri otomotif.

Orang Cina tidak mau beli mobil-mobil Jepang. Mayoritas orang di Beijing punya kebiasaan memasang foto Mao Tse-tung di depan mobil mereka agar mobilnya tidak tabrakan. Menurut mereka, malaikat maut takut sama gambar ketua Mao, gemetar dan akan lari terbirit-birit bila lihat gambar Mao.

Ini bukan kebodohan bagi bangsa Cina. Tapi ini sebuah terobosan budaya di mana rasionalitas komunisme dijadikan alat dasar untuk penghancuran takhayul bagi masyarakat walaupun kita membaca itu sebagai takhayul juga. Masa’ malaikat takut sama gambar manusia, sudah mati pula, ini sama takhayulnya kalau kita duduk di pintu maka bakal susah jodoh. Karena yang bener tuh ngalangin orang lewat woi!😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: