(Bukan) Soal Cinta

“Sita is abducted by the king Ravana” – Wikipedia.org

Kapan terakhir kali saya bicara soal cinta? Ini bentuk pertanyaan yang tidak bertanya😀

Mungkin sejak enam tahun lalu. Bukan menghindari tema-tema cinta atau segala romantika di dalamnya untuk jadi bagian catatan kecil ini. Bukan pula karena canggung dengan stigma menye-menye yang kadung terbentuk di luaran sana. Toh saya tidak begitu antusias perihal ekspektasi orang lain terhadap saya. Sebenarnya, memang tak ada alasan persis. No answer is the answer.

Saya baru membaca (lagi) Ramayana Reborn, komik hyper-reality soal manusia masa depan berbasiskan cerita Ramayana setelah dunia dihancurkan oleh perang nuklir. Kecuali ekplorasi itu, tidak ada yang baru yang menarik buat saya. Drama perebutan kekuasaan disisipi romantika percintaan yang sangat menjemukan. Semacam menekuri romansa Rama, Sita (Shinta) dan Rahwana tetapi dari perspektif “protagonis”. Entahlah, saya hanya bosan.

Penulis itu, mengapa tak ada yang menuturkan sudut pandang ketokohan Rahwana. Mungkin akan menjadi rasa baru bagi khalayak yang doyan komplen seperti saya misalnya. Mulai saja dari cinta Rahwana kepada Sita.

Rahwana, dialah seorang pejuang cinta, sesungguhnya. Dari tokoh Rahwana, kita menjadi tahu bahwa setiap orang pasti memiliki cinta sejatinya, entah yang ia miliki (nikahi) atau tidak. Mencintai Sita adalah takdir Rahwana.

Izinkan saya untuk membuat Anda semakin muntah-muntah ya..😀

Orang kadang-kadang menikah karena keadaan. Maka berbahagialah orang yang diberikan hadiah oleh Tuhan untuk menikahi orang yang dicintainya sejak awal, orang yang telah ditentukan menjadi takdirnya. Menikah itu nasib, tapi cinta itu takdir. Siapa yang mampu melawan takdir?

Tuhan selalu menyimpan takdir cinta itu di dalam rindu setiap orang. Dan orang yang berani adalah orang yang berjuang untuk mewujudkan takdir itu sebagai hadiah, bukan sebagai gelisah yang ia simpan di laci-laci langit kenangan.

Maka Rahwana telah menunaikan takdirnya untuk mencintai Sita. Cukup itu saja. Soal akhir cinta yang tragis, justru itu merefleksikan suatu pengorbanan. Tak ada yang salah dengan itu. Karena, pengorbanan, di satu waktu, adalah sesuatu yang layak bagi cinta.

Demikian. Terima kasih.

Silakan, muntah-muntah dilanjutkan :p

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: