Arsir

“Soca” – Pencil, charcoal

Kata orang, petualangan sesungguhnya itu dimulai dari “P”. Bagiku, ini sebuah dimensi yang lekang. Dan aku menghilang. Jauh ke sebuah wilayah entah. Yang di dalamnya tak ada keberlimpahan gelisah. Hanya aku dan desir angin yang menimpuk daun kuping.

Berbulan-bulan, bertahun-tahun aku mungkin dapat menghilang. Jauh. Karena secuil takut. Takut yang amat merenggut, kehangatan yang selama ini disekap rapat-rapat. Takut akan keniscayaan adalah janus, senjata bermuka dua. Bila digunakan dengan baik ketakutan akan mendidik. Takut ditilang polisi, takut dicemarkan nama baik, takut IPK turun. Takut adalah batas. Sadar bahwa manusia terbatas.

Sekiranya aku hilang karena takut, anggap saja itu sebuah marka batas. Lantas terlelap. Mengendap.

“Jam berapa sekarang? Ra?” Mas Aga mengusir lamunanku.

Aku melirik jam tangan dan ternyata sudah pukul 08.00. Sesuai manajemen waktuku, sampai di Desa Sumur. “Pas waktu sarapan deh di rumah Pak Wi,” seloroh Gita memotong. Yah, memang di kepalanya hanya dua hal, belanja dan makanan. Tapi, karena doyan makan itu, justru ia jadi kemenakan PakWi dan sekawanan di YKBI (Yayasan Konservasi Badak Indonesia). Aku dan Mas Aga punya nama kesayangan buatnya, Nona, lantaran suatu kejadian besar di hidupnya.

Mas Aga tersenyum. Dan seperti biasa hanya melontarkan balasan dari tingkah adik-adiknya dengan satu kata membosankan: “Dasar kamu”.

Dua jam perjalanan kami tempuh dengan mini bus dari Labuan ke Desa Sumur untuk ekspedisi sekaligus silaturahmi dengan Pak Wi, Wiroto Mangkusudibyo. Orang kebanyakan salah menerkanya orang Jawa. Meleset! Pak Wi asli Sumatera Utara, lama bermukim di Amerika. Puluhan tahun jadi tenaga ahli di WWF dan kini, memimpin sebuah yayasan ihwal satwa langka, YKBI mungkin sejak aku masih SMA. Dalam pengabdiannya itu, Pak Wi tinggal sendiri di tengah kepungan hutan Ujung Kulon di antara pulau-pulau kecil nan genit. Yang merangsang indera para backpacker untuk berjibaku keliling Pulau Peucang umpamanya.

Sebuah rumah bambu dengan anyaman khas Parahyangan tampak terbuka pintunya. Namun, bukan itu yang menarik kami. Adalah sang tuan rumah yang menyambut dengan ramah. Khas senyum Pak Wi yang renyah mengusir sekelumit lelah. Bersalaman, bertanya kabar yang bukan basa-basi pun mengawali pertemuan kami. Dan benar saja ramalan mujarab Gita, kami diberondong sarapan. Telor ceplok, udang ebi, ikan selar, sambel pedas-manis, lalab, dan nasi merah panas. Semua terhidang di meja makan ini hasil kebaikan alam. Puji syukur, tumbuhan yang tak pernah mengeluh memberi oksigen, akar yang tak lelah memberi makan sampai ke daun dan batang. Andai manusia mendaras dari alam, bahwa kebaikan merupakan konsistensi, bukan akumulasi. Kebaikan yang sama rupa dengan yang terpendar dari lelaki tua Pak Wi.

“Kita tidak membantu Pak Wi, Ra. Kita membantu menyelamatkan aset negara, dan membuat para media sentimentil itu membuka cakrawala, tidak terjajah politik argumentatif. Fokus pada skala urgensi prioritas.” Mas Aga meyakinkanku minggu lalu, dan memang hati ini tergerak untuk melawat Ujung Kulon yang tengah diperdebatkan banyak media komoditi nasional.

Populasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, saat ini kurang dari 60 ekor. Semua mafhum, berbagai pihak, baik pemerintah maupun LSM mengupayakan penyelamatan hewan langka ini dari ancaman kepunahan.

“Di tengah perselisihan program JRSCA, urgensi kesadaran memelihara aset negara, justru seharusnya menjadi pokok persoalan yang utama,” sumbangsih pemikiranku pada Mas Aga yang serius membolak-balikkan makalah presentasi untuk minggu depan di seminar Center For Biodiversity Strategies, UI.

Pertengahan Juni 2011, pemerintah meluncurkan program Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Program ini diklaim sebagai bentuk konservasi penyelamatan hewan langka, yakni badak jawa dari krisis habitat, hingga ancaman kepunahan. Kementerian Kehutanan membawahi proyek pembangunan pagar listrik sebagai penjabaran program JRSCA tersebut bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Badak Indonesia (YKBI). Pembuatan second habitat untuk badak jawa ini amat diperlukan. Selain melindungi badak, pun memudahkan peneliti mempelajari badak jawa (Rhinoceros sondaicus) endemik Jawa yang berdasarkan data WWF Indonesia jumlah badak jawa di TNUK tinggal 29 ekor.

Sayang, LSM dan media berat sepihak mendebat hal tersebut. Pak Wi merupakan salah satu penggagas program yang telah disetujui oleh pemerintah itu. Namun, aku mencium sebuah tekanan timpang. Pak Wi dikecam, dicemar, lantaran menurut mereka, pemagaran berlistrik justru merusak ekologi dan membatasi migrasi satwa di area Taman Nasional. Belum lagi perihal pembukaan lahan untuk memageri TNUK yang dianggap perambahan hutan. Untuk mendirikan pager berlistrik, pepohonan harus dibabat.

“Kalau tidak dipagari, hewan besar pelihara manusia bisa masuk. Kerbau, misalnya, dia juga senang berkubang yang sama dengan kebiasaan badak. Kerbau membawa bakteri Tripanosoma yang dapat menyerang badak,” Pak Wi menunjukkan denah pagar di wilayah hutan lindung.

Aku belum seratus persen percaya pada data-data dokumentatif. Aku perlu tandang ke lokasi, ujarku pada Mas Aga. Dia sangat berkenan, karena sebagai Ketua Association For Tropical Biology and Conservation Asia Pasific Chapter, ia paham sikap YKBI.

“Aku nggak habis pikir sama media nasional itu. Apa mereka nggak merasakan sulitnya mengkampanyekan cinta badak sama masyakarat? Bisanya cuma mengecam, menuding tanpa pernah observasi,” cetus Gita. Sejak terpilih jadi duta badak, ia makin tekun belajar tentang alam dan kelangsungan hidup satwa langka. Menurut Gita, pengetahuan satwa langka seperti badak jawa di kalangan masyarakat amat minim. Dua tahun sudah ia mati-matian mempromosikan itu, namun, kebanyakan terkendala dari segi teknis.

“Kita perlu lebih sabar pada proses, dan saya kira kita tidak dulu menyeah. Masih ada harapan,” jawab Pak Wi.

“Tapi Bapak punya hak jawab atas aksi represif ini di sebuah forum akademis, secara intelektual,” sanggah Mas Aga. Aku maklum, karena sebagai ilmuwan, jejak rekam Mas Aga sudah malang melintang di dunia konservasi dan sejenisnya.

Pak Wi mengayuh perahu kecil ini melintasi perairan di antara Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang, tepat di saat matahari menyegat. Aku membenarkan posisi topi sambil menyeringai ke langit menyapa terik.

Dua jam tak terasa mengapung di air. Kami menapak daratan di sebelah Selatan Desa Sumur alias Taman Jaya. Lokasi di mana JRSCA dibangun.

Aku langsung observasi. Pemagaran dilakukan dengan luasan 3.000-4.000 hektar, dibatasi laut di sisi utara dan selatan. Di area timur sepanjang 20 kilometer dan sisi barat 2 kilometer. Pagar berlistrik itu melingkupi Taman Nasional Ujung Kulon. Pemagaran bukan persis membelah Semenanjung Ujung Kulon. Tetapi, beberapa kilometer di area dalam, dekat dengan pemukiman warga. Pembukaan lahan hutan bekas perambahan di Desa Ujung Jaya, misalnya, luas area sekitar 30 meter dan panjang 5 kilometer dari Cilintang menuju Aermokla. Ini mirip dengan apa yang dilaporkan oleh analisis risiko lingkungan (ERA) Rencana Pembangunan JRSCA di TNUK November 2010 lalu, gumamku.

Aku dapat mengerti mengapa para pengamat LSM kekhawatiran kelompok LSM memuncak, lantaran puluhan alat berat masuk hutan lantas menumbangkan pepohonan.

“Yang menjadi perdebatan, bahwa klaim atas area yang dibabat itu menurut pemerintah, justru bekas perambahan, alias hutan yang telah rusak,” aku menelpon redakturku di Jakarta untuk follow up.

“Enggak bias Ra, pokoknya kamu bikin sesuai pesanan, hajar program itu. Saya sudah siapkan di sini semua. Kamu formalitas di situ,” jawaban di ujung telepon ini menghenyak. Aku mendebat.

“Silakan, tapi hak saya untuk menyelamatkan nama baik. Saya tidak mau disertakan dalam tulisan Bapak, saya berhak menolak sebagai professional.”

“Jangan keras kepala! Media selalu kontra dengan pemerintah. Kita tidak mau mati ditelan mayoritas,…”

“Kalau begitu saya punya cara sendiri,” aku mematikan hubungan.

“Program JRSCA bukan “membelah” Semenanjung Ujung Kulon tetapi, membuat semacam perluasan atau ‘second habitat’ bagi badak. Badak adalah hewan langka yang hidup di dataran rendah,” itu kalimat pembuka di blog yang kutulis. Badak hidup dekat manusia, karena itu rentan terhadap bahaya. Pemagaran dalam konteks program JRSCA guna mengurangi ancaman terhadap badak dari spesies hewan besar seperti kerbau dan banteng.

Pak Wi sendiri menganggap badak sebagai simbol kehormatan Indonesia. “Kalau badak jawa hilang, tidak ada lagi karisma Indonesia. Badak adalah hewan karismatik,” begitu katanya.

Aku yakin, badak sala satu megafauna paling terancam kepunahan di seluruh antero dunia. Lembaga acuan IUCN (International Union For The Conservation Of Nature and Natural Resources) telah menggolongkan badak jawa dengan kategori tertinggi yaitu Critically Endangered, bahkan semenjak 15 tahun lalu. Akan sangat memprihatinkan bila badak jawa sebagai amanah dan aset bangsa tenggelam dalam kegaduhan politik yang sedang berlangsung. Bedanya, bila politik praktis penuh dengan abstraksi, maka kepunahan badak adalah nyata dan proses ini irreversible.

Aku yakin tidak ada aksi memfragmentasi hutan atas program JRSCA. Sebab, pembangunan pagar tetap mengacau pada mobilitas hewan hutan. Setiap 1 km pagar, terdapat koridor dan tutupan kanopi yang menyambung sehingga primata bisa memakainya untuk melintas. Artinya, tetap tidak mengisolasi hewan dari habitatnya. Pagar listrik pun setinggi 40 cm, sehingga satwa kecil masih bisa lewat di bawah pagar-pagar itu, bahkan primata arboreal seperti lutung dan owa jawa yang sepenuhnya di tajuk pepohonan dapat lewat dengan mudah. Kedua spesies ini seperti halnya badak, hanya terdapat di pulau Jawa dan tidak di tempat lain dunia, sehingga digolongkan endemik.

“Dan harus diingat Rara, area second habibat seluas 110 hektar ini adalah lahan bekas, perambahan,” kata Pak Wi.

“Perambahan hutan itu isu lama, apa upaya YKBI selama ini, Pak?”

“Soal perambahan, sudah ada perhatian dari pihak taman nasional. Selain itu juga sudah ada resort based management untuk bisa memantau. Untuk peruburuan, nanti akan ada pos di tiap koridor sehingga bisa dipantau. Kalau terbukti meningkatkan resiko perburuan, ya nanti tutup saja,” ungkap Pak Wi. Aku puas, karena jawabannya sesuai data.

Gita lebih tertarik membahas tingkah penduduk yang kurang mencintai lingkungan dengan memancing ikan sembarangan. Sebab, justru karena ulah manusia itulah, habitat badak rusak.

“Misalnya air sungai yang sudah tercemar Potasium Sianida. Potasium ini berasal dari bom ikan, dan sangat beracun, bahkan bagi manusia, ya kan Pak?” Pak Wi mengangguk atas pertanyaan Gita.

Perluasan habitat badak amat perlu, mengingat jumlah badak jawa tersisa kurang dari 60 ekor. Perselisihan beragam kepentingan memang selalu ada. Tetapi, hal yang mendasar adalah sosialisasi kesadaran bersama bahwa memelihara aset negara merupakan tugas besar warga negara Indonesia. Bahwa risiko tetap ada dalam menjalankan rencana apapun. Itu adalah ketakutan.

Tapi, takut bukan untuk ditutupi. Seperti sosok Pak Wi. Dalam keheningan, kegelisahan, dan harapan ia percaya. Kesadaran akan menuntun kejernihan hati, bijak dalam berpeilaku. Weninging ati kang suwung, nanging sejatining isi, wejang Ronggowarsito yang kurang lebih berarti keheningan sekaligus kebeningan.

Tapi takut menjadi komoditas sehingga ia dikenankan untuk tidak hilang. Paling tidak dalam jagat politik. Ketakutan adalah represif. Pada siapa saja dan apa saja. Tekanan menjadi senjata itu barangkali yang dilakukan sebagian lembaga, termasuk media. “Bukan kekuasaan yang merusak watak, melainkan ketakutan”, demikian Aung San Suu Kyi dalam jiwa Pak Wi.

 

Pemenang Karya Favorit Kategori C

Lomba Menulis Cerita Pendek Tingkat Nasional LMCR 2011

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: