Binangkit

Ibu saya pernah bilang, “Kedah jadi istri binangkit” (bahasa Sunda). Artinya-kurang lebih-jadi perempuan itu harus segala bisa (bekerja). Perempuan harus mandiri dan tidak tergantung kepada suami. Istri binangkit bukan hanya jago urusan domestik dan lipstik.

Tapi, sebagai perempuan dan istri yang menjaga kehormatan. Karena, sebaik-baiknya perempuan adalah yang menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Tujuanlah, saya kira, yang menentukan keharusan perempuan bekerja.

~Kata kuncinya: membangun rumah tangga.

Namanya membangun, artinya aktif, bahu-membahu, saling mengisi. Baik istri-suami, atau siapapun yang tengah membangun, partisipasi amat diperlukan dalam bentuk apapun. Kontribusi kecil atau besar.

Tujuan yang realistis menentukan upaya. Dear istri-istri yang merasa biaya hidupnya spektakuler, jika subsidi dari suami kurang untuk biaya foya-foya Anda, ya bekerjalah. Gampang.

Tidak perlu mengeluh, lantas bersembunyi di balik tameng sumpah “kewajiban suami mencari nafkah”. Kesalahan terbesar memutuskan menikah karena nebeng hidup kepada pasangan. Menikah untuk ‘investasi’ jangka panjang. Menikah karena uangnya.

Menikah karena asumsi menggabungkan gaji dua orang supaya bisa hidup enak, keliru. Apalagi, cuma bisa menuntut tanpa bisa bekerja. Ayolah, di arena keras ini, siapapun haram mengeluh.

Dear perempuan, mengasihani diri sendiri itu membuat cemar. Polusi otak serta tabiat. Selama manusia hidup di sana selalu ada kepentingan. Dan masalah. Manusia bekerja untuk hidup dan kehidupan.

Perempuan mudah rapuh, jika paham bahwa Anda sudah lengkap sebagai individu.

Saling membangun hubungan. Tujuannya bukan saling melengkapi atau menyatukan perbedaan. Ibarat lingkaran, Anda dan orang lain adalah lingkaran utuh yang bertemu dan membentuk diagram venn.

Begitupun suami-istri yang walau berbenturan tetap bisa tambal-sulam. Menerima kondisi lebh arif dan saling memberi energi positif. Barangkali, esensi menikah bukan saling melengkapi. Tapi, membangun hubungan rumah tangga.

Lebih bahagia dan damai dalam hidup dengan merasa cukup.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: