Genjot Destinasi Wisata Lewat Edukasi Berkala

Dibandingkan variabel investasi, Indonesia mampu menempati posisi ke-3 soal harga dalam industri pariwisata. Indonesia harus mulai bisa membudayakan kesadaran untuk menjaga kekayaan khas tropis sebagai katalisator pembangunan perekonomian negeri.

Indonesia memiliki kekayaan alam tropis yang dapat menarik tingginya persepsi dunia terhadap kunjungan wisman ke Indonesia. Namun, dari tahun ke tahun upaya sosialisasi pariwisata Indonesia mengalami maju-mundur di variabel tertentu.

Investasi misalnya, harus kita akui bahwa peminat investasi di industri pariwisata dalam negeri masih tiris. Banyak kendala yang memengaruhinya, meskipun itu tidak mengurangi percaya diri Kementerian Budaya dan Pariwisata berani menargetkan 7,7 juta wisman berkunjung ke Indonesia tahun ini.

Sosialisasi amat membantu dalam pembangunan industri pariwisata di suatu negara, terlebih dilakukan di berbagai elemen pendukung. Kegiatan-kegiatan edukasi berkala di lembaga pendidikan sejak dini maupun perguruan tinggi membantu menumbuhkembangkan kesadaran untuk menjaga kekayaan khas tropis agar dapat bersaing dengan destinasi wisata negara tropis lainnya.

Untuk itulah, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) mengangkat tema ‘Awakening the Tourism Economy’ dalam Kompetisi Ekonomi (KOMPeK) 13 tahun ini. Ajang kompetisi tingkat nasional dalam bidang ekonomi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEUI menampilkan tema pariwisata untuk sekitar 400 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Indonesia yang berlangsung di FE UI, Depok selama tiga hari 8-10 Februari 2011.

Indonesia memiliki potensi besar di bidang pariwisata karena dikaruniai alam dan budaya yang menarik. Namun, kerena banyak kendala membuat pertumbuhan pariwisata nasional masih tertinggal dengan negara tetangga. Berbagai kendala itu seperti infrastruktur, kurangnya promosi, pengelola destinasi di daerah, serta  munculnya bencana alam, wabah penyakit, dan aksi terorisme.

Sebagai catatan, indeks daya saing pariwisata Indonesia berdasarkan survei World Economic Forum (WEF) dari tahun ke tahun terus menurun dengan peringkat ke-60 pada 2007, peringkat ke-80 pada 2008, dan peringkat ke-81 pada 2009. Sebanyak 73 variabel yang dinilai itu meliputi berbagai hal, misalnya untuk kerangka regulasi mencakup kebijakan dan peraturan, kewajaran kepemilikan usaha asing, hak kekayaan intelektual, peraturan terkait investasi asing, persyaratan visa, dan keterbukaan kerja sama open air acces.

WEF juga menilai dalam hal lingkungan yang berkelanjutan, peraturan di bidang lingkungan, emisi CO2, konsentrasi partikulat berbahaya, spesies yang dilindungi, keselamatan, terorisme, hingga keandalan pelayanan polisi. Namun, Kemenbudpar mengklaim pada 2010 menunjukkan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia sebanyak 7.002.944 orang atau naik 10,74 persen dibandingkan periode yang sama 2009. Dari kunjungan wisman itu devisa yang diperoleh pariwisata pada 2010 sebesar 7 miliar dolar AS atau setara Rp 63 triliun.

Fenomena maju-mundur destinasi ini menarik untuk diteliti lebih lanjut terutama di kalangan generasi muda sebagai agen perubahan. Menurut panitia penyelenggara, kegiatan  KOMPek 13 terdiri atas empat kegiatan lomba.

Antara lain Economic Quiz (EQ), Economic Debate Competition (EDC), Bussiness Challenge (BC), dan Economic Research Paper (ERP). EQ adalah kuis cepat tepat dengan topik ekonomi dan akuntansi dengan satu tema mendala, sedangkan kegiatan EDC para peserta akan melakukan debat tentang topik ekonomi dengan menggunakan bahasa Inggris.

Peserta KOMPeK adalah sekolah yang paling sering juara dalam rangkaian acara KOMPeK adalah SMAK 3 BPK Penabur, yaitu lewat cabang lomba Economics Quiz. Sekolah terjauh yang pernah menjadi partisipan KOMPeK adalah SMAN 3 Jayapura, lewat partisipasinya dalam Economics Quiz KOMPeK 10.

Peserta KOMPeK terbanyak adalah dalam penyelenggaraan KOMPeK 8, di mana belum diadakan sistem seleksi regional. Total ada sekitar 268 tim yang berpartisipasi dalam KOMPeK 13 kali ini, yang berasal dari sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Namun, berdasarkan seleksi yang telah dilakukan, hanya 74 tim yang berhak lolos untuk ikut berkompetisi secara langsung di FEUI Depok (terdiri dari 24 EDC, 40 EQ, 5 ERP, dan 5 BC)

Sekolah mendelegasikan tim jagoan mereka untuk mengikuti ajang tahunan ini. Di antaranya SMAN 2 Kediri yang mengutus Grandika Septia P, Yosika Bedik S., Mayang Anglingsari P untuk
mempresentasikan tema ‘Peningkatan Daya Saing dan Optimalisasi Potensi Gunung Kelud Guna Meningkatkan Ekonomi Pariwisata’.

“Kami bangga bisa mengikuti kompetisi ini, karena dapat menambah kekayaan intelektual serta membantu sosialisasi kepada generasi muda tentangkepedulian industri pariwisata,” ungkap Grandika.

Berikut ini sekolah lainnya, SMAN 4 Denpasar (Analisis Penawaran dan Permintaan Wisata dalam Pengembangan Potensi Pariwisata Pusaka di Desa Julah)anggota tim Kadek Hendrawan P., A.A Istri Intan Y., Katharina Ester. SMK PGRI 1 Sentolo (Penyatuan Sistem Multisektoral Kawasan Pariwisata: Harmonisasi Masyarakat Multikultural dalam Pengembangan Potensi Wisata Secara Efektif dan Partisipatif) dengan anggota tim Gigih Prastowo, Bety Susanti, Bayu Alexandria.

Lalu, SMAN 1 Purbalingga (Strategi Pengembangan Pariwisata melalui Pendekatan Intergrasi Antar Objek dan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Purbalingga) nama anggota tim Testian Yushli Ana, Ratna Novita Sari, Heru Cahyo Widodo. Dan Sabila Nurbayani, Rizqia Nafisa, Dea Rahadian Hidayati perwakilan dari SMAN 1 Garut (Membangun Seni Pertunjukan Tradisional dalam Perkembangan Industri Pariwisata dengan Menggunakan Metode M.A.P).

Kemenbudpar tak memungkiri bahwa sampai saat ini banyak kendala pengembangan pariwisata di Indonesia diantaranya lemahnya infrastruktur, kurangnya promosi, kurangnya pengelolaan destinasi di daerah, serta munculnya bencana dan terorisme yang membuat pertumbuhan pariwisata nasional terhambat.

“Indonesia memiliki potensi besar di bidang pariwisata karena dikaruniai alam dan budaya yang menarik,” kata Menbudpar Jero Wacik, yang diwakili Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga I Putu Laksaguna, ketika membuka acara. Kebijakan pembangunan pariwisata bertumpu pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan penciptaan lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat.

“Selain itu, mengurangi angka kemiskinan dan  menjaga kelestarian lingkungan atau pro-growth, pro-job, pro-poor, dan  pro-environment,” imbuhnya.

Sumbangsih Generasi Muda

Meski Indonesia kaya akan budaya dan sumber daya alam, daya saing pariwisata dari tahun ke tahun relatif menurun. Generasi muda harus turut-serta membangun sektor industri pariwisata.

Mantan Menko Perekonomian yang juga alumnus FE UI, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti pada kesempatan yang sama mengajak generasi muda untuk mulai menumbuhkan kesadaran dalam menjaga potensi pariwisata di tanah air. “Tolong generasi muda untuk turut serta mengambil tanggung jawab, mulai memperhatikan kebersihan alam dan sekitarnya,” katanya.

Sebagian besar wisman hanya kenal Indonesia karena Bali, Lombok, atau Bromo padahal, kita punya lebih kekayaan alam dari itu. Negara wisata tropis seperti Thailand masih menjadi saingan Indonesia menarik perhatian wisman.

“Di lingkungan tropis ada jutaan tempat pariwisata seperti Fiji, Maladewa dan lain-lain yang menawarkan matahari, laut, dan pemandangan seperti halnya Indonesia,” tambah Dorodjatun. Dengan begitu, lanjutnya, akan banyak wisatawan yang berkunjung ke Indonesia tidak hanya sekali tetapi berkali-kali karena merasa betah di Indonesia.

Semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung, akan berdampak secara langsung terhadap perekonomian di tanah air. Terlebih melalui sosialisasi dan edukasi berkala di tingkat lembaga pendidikan, meningkatkan peluang destinasi pariwisata dalam negeri.

Keterangan foto: Koleksi penulis

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: