Februari, Konser Maraton Musisi Impor

Februari tahun 2011 bisa dibilang bulannya konser ‘maraton’ artis luar negeri di Indonesia. Sederet band maupun solois pengusung aliran dari berbagai genre musik padat jadwal ‘manggung’ di tanah air hampir mengalahkan rekor konser musisi lokal. Apa yang menarik dari konser-konser artis impor itu ditilik dari berbagai perspektif?

Meski krisis multidimensi melanda Indonesia, sudut kontras tampak pada cara kebanyakan orang menghabiskan waktu luang (leisure). Apapun motifnya, terbukti setiap konser yang mendatangkan musisi mancanegara selalu memperoleh ekspektasi luar biasa dari penonton.

Sebut saja konser band impor Maroon 5 yang tiketnya sudah ludes terjual (sold out) lima bulan sebelum gelaran konser pada 27 April 2011 di Istora Senayan, Jakarta mendatang. Dalam waktu sepuluh jam saja ribuan tiket seharga 600-800 ribu rupiah laris manis, mencengangkan sang promotor Java Musikindo, Adrie Subono.

Ini mungkin terbilang konser musik mancanegara paling fenomenal di Indonesia untuk tahun 2011. Di bulan ini saja, terjadi ‘estapet konser’ band-band luar negeri yang dibawa oleh berbagai Event Organizer (EO). Band rock Deftones mengawali konser pada 8 Februari 2011, di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta. Tiket masuk konser sudah bisa dipesan sejak 27 November lalu dengan rentang harga 300 hingga 500 ribu rupiah.

Lalu akan dilanjutkan konser band beraliran metalcore asal Inggris Bring Me The Horizon pada 19 Februari 2011 bertempat sama di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta. Sebelumnya, 17 Februari band heavy metal Iron Maiden akhirnya mau juga menggelar konser di pantai karnaval Ancol dalam rangkaian Frontier World Tour 2011.

Oleh promotor Original Production yang berhasil memikat grup musik heavy metal legendaris asal Inggris itu, tiketnya dijual dengan harga bervariasi. Untuk konser di Jakarta, dimulai dari harga 250 ribu rupiah. Sedangkan yang di Bali, sebelum 1 Februari 2011, bisa dibeli seharga 350 – 550 ribu rupiah. Laris? Tentu saja. Tak sampai di situ, Java Musikindo juga sudah menjadwalkan pagelaran konser bertajuk Jak Jam selama dua hari, 22-23 Februari 20011.

Di hari pertama (22/2) dimeriahkan oleh tiga band asal Amerika Serikat. Antara lain, band menamai alirannya powerpop yakni We The Kings, band akustik pop Never Shout Never, dan band post harcore I See Stars. Hari kedua (23/2) ditutup dengan penampilan band yang juga sama asal Amerika Serikat beraliran pop punk New Found Glory dan Starting Line.

Pun tak ketinggalan, konser solois hadir memeriahkan bulan kedua ini. Rick Price tampil di Balai Sarbini, Jakarta (7/2). Penonton dapat menikmati penyanyi asal Australia yang dulu sempat ‘ngetop’ di Indonesia pada era 90an dengan tembang macam Heaven Knows dan If You Were My Baby dengan harga tiketnya yang mulai dari 500 ribu rupiah.

Pengamat musik rock Denny Sakrie melihat ekspektasi publik terhadap band-band asing terutama bergenre rock terjadi sejak lama. Bahkan ia memprediksikan tahun ini rock kembali berjaya. Trend musik rock di Indonesia umpamanya, akan mengalami sebuah metamorfosis tanpa kehilangan unsur kekhasannya. “2011 rock kembali berjaya,” kata Denny.

Entah itu selera penonton konser musik maupun trend musik secara global. Tentu saja rock bermetamorfosis seperti turunan-turunannya yang ada saat ini, progressive, punk, metal, British, alternative, dan lain-lain. Bagi mereka yang terbiasa menyaksikan konser berskala internasional, terutama mereka para kaum urban Jakarta rela berkorban uang, tenaga dan waktu. Motifnya beragam, mulai dari penggila band yang bersangkutan, atau cuma akibat antusiasme sesaat.

Promotor sudah seperti berhala di mata penggila konser, demikian gambaran fenomena aksi band-band internasional di Indonesia. Pengkritisi musik Nicko Krisna dalam sebuah tulisan sempat mengulas tentang karakter dan pengaruh para promotor dalam negeri terhadap selera musik setiap orang. Nicko memaparkan, Adrie Subono, tetap konsisten dengan keberagaman selera musiknya, yang selalu membawa band dan solois dari berbagai kelas.

Sementara itu, pemain lama yang disebut-sebut sebagai pionir music event organizer di negeri ini, Peter Basuki, seperti terengah-engah dan kehabisan napas. EO kepunyaannya, Buena Production (BP), terlalu berusaha konsisten di jalur ‘mahal’ dan ‘aman’ dengan membawa artis internasional mulai dari yang begitu senior, seperti Natalie cole, Al Jarreau, George Benson, boyband masa lampau, backstreet boys, hingga musisi kontemporer terkini, Sarah Brightman.

“Namun, ‘barang’ bawaannya itu malah menjadi boomerang bagi Peter. Beliau selalu mematok harga mahal untuk tiket di setiap konser yang diselenggarakan oleh BP, namun, tidak ada haru biru yang ‘kena’ di ingatan dari setiap hajatannya tersebut,” ungkap Nicko.

Lain hal dengan Hanin Sidharta, director Soundshine Mega Concerta. Pasar yang dia tembak lebih terukur dengan mendatangkan band maupun musisi jenius, seperti Phoenix, Kings of Convenience, Club 8, Sondre Lerche, Jens Lekman.

Dengan harga tiket yang masuk akal, kata Nicko, setiap event yang diadakan Soundshine, sanggup memboyong rombongan loyalis untuk memenuhi setiap gelarannya. Di lain tempat, Peter Gontha, dengan bendera Java Festival Production(JFP), sudah berhasil melakukan mission impossible dia, Java Jazz. The Manhattan Transfer, Baby Face, John Legend, Tony Braxton dan kelompok maupun musisi Jazz lokal dari berbagai kelas, bisa dia kumpulkan dalam festival musik tersebut. Soulnation dan Java Rockin’land.

Yang pertama disebut merupakan ajangnya para musisi hip hop serta soul skala internasional maupun nasional berpadu, sementara yang terakhir adalah festival musik rock, dengan line up artis luar plus dalam negeri, yang masuk dalam kategori cutting edge, yang baru pertama kali diadakan tahun 2009, dan bisa mengumpulkan band-band luar favorit jaman dulu seperti Mr. Big, Third Eye Blind, hingga yang terkini, MEW.

JFP sudah berhasil mengeksekusi festival Java Jazz selama lima tahun berturut-turut. Ini merupakan kebanggaan tersendiri buat Indonesia, untuk pencitraan konsistensi yang baik terhadap negara lain. Sebab, Jakarta, sebagai ibukota, sanggup memberi rasa nyaman bagi para musisi luar, saat mereka beraksi di sini.

Ada juga Solucite yang konsisten di jalur musik keras. Terakhir mereka baru saja mendatangkan band horror punk asal New Jersey, Misfits. EO ini dikenal dengan keteguhannya untuk tetap berada di garis metal. Tampak dari semua band yang mereka bawa ke Indonesia, seperti Kreator, Pukelization, Dragon Force, Helloween, As I Lay Dying, Lamb of God, hingga Arch Enemy.

Isu-isu yang dihembuskan para promotor musik ini kadang seperti magnet yang mampu mengyedot alam pikiran orang untuk selalu berharap agar menjadi kenyataan. Masing-masing promotor memunyai ciri khas. “Ada yang bunglon, yaitu Adrie Subono, ada yang senang membawa produk ‘basi’ yakni Peter Basuki, ada yang setia dengan jalur yang sama, yaitu Solucite, ada yang ‘angot angotan’ adalah Tommy Pratama dan Nepathya, dan ada yang begitu konsisten, seperti Peter Gontha,” ujar Nicko.

Tapi, Denny berpendapat musisi dalam negeri pun tak kalah berambisi untuk go internasional. “Semua musik kan segmented,” imbuhnya. Denny mengatakan grup musik itu bisa dikatakan go internasional jika karya mereka bisa diterima di setiap negera. Salah satu indikator artis berhasil go internasional ialah jika album mereka sudah nampang di toko-toko kaset atau CD di belahan negara mana pun.

Masyarakat kita sering kali salah kaprah dengan sebutan go international. Baru manggung di Malaysia atau Singapura, sudah di cap go internasional. Atau, duet dengan penyanyi internasional yang belum cakap di dunia musik global, sudah dicap go internasional. “Padahal yang patut disebut go internasional yah ketika sudah menjajal barometer musik dunia macam Amerika atau Jepang,” kata Denny.

Kembali bicara soal konser maraton musisi impor, menurut Denny semua sudah tersegmentasi. Senada dengan Denny, Adrie Subodo menganggap konser maraton musisi internasional di bulan Februari masing-masing punya jatah. Soal padatnya band-band yang mayoritas asal Amerika Serikat konser di Indonesia, Adrie tak mempermasalahkan kue penonton yang bakal terjaring nanti. ”Mereka (band-band) itu semua kan punya penggemar tersendiri jadi, tidak masalah,” pungkas Adrie.

Keterangan foto: Koleksi penulis

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: