Pemfeodalan Bahasa

Kecenderungan ‘pemfeodalan’ bahasa Indonesia tampak dalam bahasa sehari-hari. Kata-kata biasa diganti dengan kata lain yang dianggap lebih halus, lebih bersifat menghormat. Kebiasaan berbahasa seperti itu tampak dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Bali.

Ada yang disebut bahasa halus, setengah halus, dan ada pula bahasa kasar. Jika seseorang akan bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya, kedudukan sosial di masyarakat, ia harus menggunakan bahasa yang halus yang menggunakan kata-kata khusus. Kalau perlu ‘latah’ menggunakan bahasa kontesktual tinggi tanpa tahu arti makna sebenarnya.

Kebiasaan ini ‘menular’ ke dalam bahasa Indonesia. Inilah bentuk memfeodalkan bahasa Indonesia karena kebiasaan tersebut itu adalah kebiasaan dalam masyarakat feodal.

Umpamanya, kata ‘saya’ dalam bahasa Indonesia bukanlah kata asli. Kata itu dipungut dari bahasa Sanskerta (CMIIW) ‘sahaya’ yang sama artinya dengan ‘budak’ atau ‘hamba’. Kata ini digunakan mengganti kata ‘aku’. Bila kita berbicara dengan orang yang lebih tua, yang lebih tinggi kedudukannya dari kita, dengan atasan kita, kata ‘aku’ untuk menyapa diri sendiri terasa kurang atau tidak hormat.

Karena itulah, kita gunakan kata ‘saya’. Sebaliknya, jika kita berbicara dengan orang yang sederajat atau lebih rendah kedudukan sosialnya, atau yang lebih muda usianya, kata ‘aku’ tidak kasar. Malah dengan orang yang dekat, menggunakan kata ‘aku’ terasa akrab, intim.

Namun, ada kejadian lain, kata ‘saya’ yang berarti ‘budak’ atau ‘hamba’ itu sudah dianggap kurang halus. Maka, ada yang mengganti kata ‘saya’ jadi kata ‘kami’. Orang menggunakan kata ‘kami’ dalam bertutur dengan orang yang dihormatinya, seperti dengan presiden, karena ia menganggap kata ‘kami’ lebih halus daripada ‘saya’. Benarkah?

‘Kami’ menunjukkan kepada diri orang pertama jamak. Kata kami digunakan oleh yang bertutur bila yang dimaksudnya dirinya sendiri bersama-sama dengan orang yang diwakilinya. Sama dengan kata ‘we’ dalam bahasa Inggris, atau kata ‘wij’ dalam bahasa Belanda.

Tapi, tak ada orang yang berbahasa Inggris yang menggunakan kata ‘we’ untuk menyebut dirinya sendiri. Orang Belanda juga tidak menggunakan kata ‘wij’ untuk menunjuk dirinya sendiri.

Mengapa sekarang orang Indonesia seenaknya mengganti kata ‘saya’ dengan ‘kami’? Atau karena makna kata ‘saya’ yang sebenarnya tidak lagi diketahui oleh orang Indonesia sehingga dia tak tahu bahwa kata itu berarti ‘budak’? Apa yang lebih rendah daripada budak?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: