Pengaruh Media dalam Masyarakat Tradisional

Pemberitaan melalui sarana media, terutama elektronik, memang memiliki dampak sangat besar terhadap publik. Apalagi, pemberitaan tersebut menyangkut keselamatan dan hajat hidup orang banyak.

Program televisi, baik news, informasi, maupun hiburan seharusnya tidak memuat pemberitaan yang mengandung unsur mistis, sekalipun masyarakat Indonesia kebanyakan masih percaya pada alam metafi sika, kepercayaan, animisme, dan dinamisme. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bukan tanpa alasan menghentikan sementara program infotainment Silet di salah satu stasiun televisi swasta.

Tayangan informasi, bukan hanya Silet, telah membuat masyrakat di sekitar lereng Gunung Merapi panik akibat pemberitaan di dalamnya. Seperti diketahui, Silet yang tayang pada 7 November lalu memberitakan pernyataan paranormal Permadi bahwa bencana letusan Gunung Merapi akan lebih dahsyat.

Melanjutkan aduan masyarakat dan LSM, KPI akhirnya memberikan surat teguran kepada program tersebut. Anggota KPI Pusat, Ezki Suyanto, mengatakan tayangan apa pun dilarang menyeret bencana Merapi ke hal-hal mistis karena akan berpengaruh kepada aspek sosiologis masyarakat di lereng Gunung Merapi. “Ini kan bencana, kalau terjadi kepanikan kan kasihan masyarakat,” kata dia. Media, dalam kasus Silet, tidak berfungsi memberikan pemahaman kepada masyarakat (khalayak) tentang kondisi yang realistis.

Dengan mampu membaca keadaan yang realistis, masyarakat berlatih untuk berpikir logis. Pengemasan program acara semenarik mungkin sebetulnya memang ada di kewenangan tim produksi siaran itu sendiri. Tetapi masalalahnya, cara “membumbui” konten tersebut yang KPI anggap terlalu berlebihan. Kata “berlebihan” ini sendiri memunyai makna abstrak, tidak jelas, dan ambiguitas.

Absurditas kata tersebutlah yang barangkali bagi KPI akhirnya menjaring program-program “bandel”. Alangkah bijak jika media turut berempati terhadap pemberitaan yang sangat sensitif dengan memilih narasumber yang kredibel, kapabel, dan berimbang.

Sebab, penonton sendiri sangat terganggu dengan pemberitaan tersebut. “Pilihlah, misalnya, topik yang lebih memotivasi pengungsi, bercocoktanam pasca bencana,” saran Ezki. Bencana alam memosisikan manusia pada level tekanan psikologi yang tinggi.

Situasi yang luar biasa itu memicu kepanikan, kekalutan, rasa khawatir, dan rasa takut makin dominan. Faktor inilah salah satu yang menjadi pertimbangangan utama KPI menindak tegas program-program siaran “nakal”.

Kendati demikian, KPI tidak berpretensi pada salah satu program tertentu, apalagi yang tengah mengalami kasus pencekalan. Tetapi aturan tersebut berlaku umum sesuai Undang-Undang Penyiaran No 32 Tahun 2008.

Selain pernyataan Permadi, dalam siaran Silet waktu itu pembawa acara Fenny Rose tak luput dari kritikan KPI. Fenny Rose dianggap semakin menguatkan ramalan mistis Permadi dengan mengatakan bahwa Yogyakarta adalah kota malapetaka.

Secara psikologis, pernyataan Fenny tersebut memicu pikiran negatif semua masyarakat se-Indonesia. Betapa tidak, seusai pemberitaan itu, KPI mendapat laporan sekitar 550 warga di lereng Gunung Merapi mengungsi dengan sangat panik.

Media sedianya perlu banyak introspeksi diri apakah program yang disajikan kepada khalayak sudah baik dan benar. Tujuan besar menciptakan situasi pertahanan dan keamanan yang kondusif adalah kewajiban bersama elemen terkait.

Efek Psikologis

Th e real politic party is media, paling tidak itulah yang tergambar dalan kontroversi tayangan Silet pada 7 November lalu. Media mampu menggerakkan massa melalui pola pikir ke arah yang mereka rencanakan.

Media ikut berperan penting dalam merekonstruksi masyarakat. Namun, seharusnya keistimewaan itu dapat bermanfaat bagi masyarakat terutama dalam masyarakat yang masih menganut konsep tradisional.

Menanggapi hal itu, sosiolog dari Universitas Indonesia, JF Warouw, mengatakan kepercayaan teologisme melekat dan bersifat kuat. Ketika masyarakat dengan sistem kepercayaan seperti itu tertimpa informasi dari mana pun yang bersifat mistis, secara otomatis efeknya akan luar biasa.

Masyarakat sangat percaya pada isi pemberitaan itu, terlebih narasumbernya adalah seorang paranormal yang bersinggungan dengan hal-hal di luar pikiran rasional. “Dalam sosiologi ada namanya teori probabilitas, nah ini yang tidak ada dalam konteks itu (kasus Silet),” kata Warouw.

Ia menjelaskan teori peluang ini harusnya diterapkan dalam mendapatkan fakta dari narasumber. Warouw menilai agar data yang digali dari narasumber faktual, bukan bersifat opini atau rekayasa, maka kehati-hatian saat wawancara mutlak diperlukan.

Secara motif psikologi, tiap narasumber memiliki agenda tersembunyi saat berbicara kepada pers. Ada yang karena ingin dipuji, ingin mendapat simpati, ingin menyerang pihak lain, atau ingin menyembunyikan sesuatu.

Di sisi lain, pers sejak pertama kali datang juga memiliki modal pemahaman yang bias terhadap suatu peristiwa. Penyebabnya karena memiliki keyakinan politik berbeda, latar belakang budaya dan pendidikan, interes pribadi, kebijakan media tempatnya bernaung, tekanan pihak lain, atau ketidaktahuan terhadap suatu masalah.

“Namun, kondisi kepanikan yang sudah telanjur terjadi di masyarakat dengan alam kehidupan tradisional memang tak bisa dihindari,” ungkap Warouw. Seharusnya narasumber, dalam hal ini Permadi, kata Warouw, memberikan sebuah pernyataan netral.

Artinya, apa pun jenis ramalan manusia bersifat unpredictable atau berpeluang fifty-fifty. Sementara pers pada posisi itu bukan malah mengangkat sudut pemberitaan (angle) pada hal-hal yang berbau sensasional. Tapi, mengatakan bahwa maksud dari tayangan tersebut sebagai upaya early warning system.

“Alam metafi sika individu tak dapat dikendalikan, satu-satunya cara adalah memberikan ketenangan kepada mereka,” tutur Warouw. Lantas siapa yang berperan untuk mengambil alih kondisi kepanikan itu? Pemerintah – dalam hal ini kementerian yang ditunjuk – harus bersikap tanggap atas respons ketakutan warga lereng Merapi.

Pemerintah kembali menetralisasi keadaan, misalnya, melalui Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, supaya pemberitaan program yang bersangkutan tidak meresahkan masyarakat.

Meski dampak pemberitaan kepada masyarakat dalam pola hidup tradisional lebih besar sisi negatif tetapi, ada sisi positifnya. Keuntungan bagi individu yang percaya teologisme ini akan mendorong ia jadi rajin beribadah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: