Berharap Sosiologi Di-UAN-kan

Ibarat buku yang merupakan rangkuman dari berbagai kisah, ilmu sosiologi merupakan rangkuman riwayat hidup manusia. Manusia selalu bersinggungan dengan sosiologi yang terjadi secara fenomenologis.

Sayangnya, berdasarkan pengamatan para sosiolog, kesadaran untuk memahami makna ilmu sosiologi semakin lama justru semakin pudar. Para pakar sosiologi beranggapan pemahaman ilmu kependudukan yang dikemas melalui jalur pendidikan kepada para pelajar SMA menjadi sangat penting dan relevan.

Sebab, melalui ilmu itu siswa sebagai individu akan berinteraksi dengan individu lain, dengan kelompok, dan masyarakat secara luas. “Saya akan sangat senang apabila sosiologi dimasukkan ke dalam materi Ujian Akhir Nasional (UAN),” ungkap sosiolog pendidikan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Derajat Sulistyo Widhiharto.

Kendati sosiologi di-UAN-kan, tidak berarti sifatnya berupa ujian, tetapi pemahaman. Metode yang dapat diterapkan, siswa dihadapkan pada studi kasus dan meneliti fenomena sosial yang sudah ada. Derajat mengatakan manusia paling tidak hidup dalam suatu wilayah, individu dengan keluarga, keluarga dengan kelompok, dan kelompok dengan negara.

Selain sebagai pengetahuan umum, sosiologi juga merupakan bekal pembelajaran hidup terlebih untuk generasi muda. Generasi muda, dalam konteks ini pelajar SMA, masih memiliki masa depan yang panjang dalam kehidupan sosial masyarakat.

Merekalah yang akan menyampaikan pesan-pesan orang-orang terdahulu kepada generasi muda berikutnya. Ilmu sosiologilah yang dapat menjelaskan mengapa manusia pasti “pulang” ke tempat asal mereka.

“Saya akan sangat senang apabila sosiologi dimasukkan ke dalam materi Ujian Akhir Nasional,” kata Derajat.

Hal lain yang cukup memprihatinkan, pada kenyataannya pemahaman sosiologi yang masih sangat kurang itu tidak hanya terjadi di kalangan pelajar, tetapi juga pendidik dan pemerintah sebagai penanggung jawab instrumen pendidikan secara luas. “Guru-guru yang mengajarkan pelajaran sosiologi di SMA bukan lulusan sosiologi, malah ada yang berlatar belakang bidang olah raga,” kata Derajat.

Padahal, generasi muda sebagai generasi penerus perlu mendapatkan pemahaman sosiologi baik secara teoretis maupun praktis dari pendidik yang kompeten. Agar sosiologi benarbenar dapat berada pada tempatnya yang sesuai, perlu dilakukan upayaupaya pembenahan.

Secara esensial, melalui pengajaran sosiologi perlu dikembangkan pola pikir bahwa ketika seseorang melihat hal yang berbeda, maka itu bukanlah sebuah perbedaan. Selama ini, orang selalu mengasumsikan konfl ik terjadi karena adanya perbedaan, padahal berbeda itu bersifat pasti.

Menurut Derajat, hidup di masyarakat tidak mungkin lepas dari perbedaan. Setiap orang berbeda karena masing-masing memiliki kepentingan dan aturan-aturan sendiri. “Dengan mempelajari sosiologi, siswa dapat belajar memandang realitas itu secara ilmiah, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Derajat memaparkan, untuk menumbuhkan minat siswa dalam mempelajari sosiologi, hendaknya dilakukan pembenahan metode penyampaiannya. Sebab, secara substansi, pelajaran sosiologi sudah tidak ada masalah. Namun, hal yang pasti, dalam membenahi metode pengajaran sosiologi, tentunya diperlukan dukungan berbagai pihak, terutama para guru serta pemerintah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: