Metode Unik Belajar Multikulturalistik

Urgensi pembelajaran keberagaman budaya di dunia pendidikan agaknya tidak menjadi berlebihan seiring fenomena konflik daerah yang kerap terjadi di Nusantara. Sebab, sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan berperan untuk mengurangi sikap-sikap itu dengan cara yang benar melalui pemahaman dalam proses pembelajaran disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK).

Adalah Bambang Kariyawan, pengajar sosiologi di SMA Cendana Pekanbaru yang menyimpan perhatian besar tentang multikulturalisme dari aspek fenomenologi sosial. Ia membuat suatu “formula” proses belajar-mengajar di dalam kelas yang mampu mengarahkan siswa untuk memiliki sikap memandang latar belakang budaya orang lain dengan ukuran yang universal, bukan berdasarkan ukuran budaya sendiri.

Bambang berasumsi, perbedaan latar budaya orang lain dengan proses pemahaman siswa di dalam kelas bila dilakukan dengan teknik yang tepat, akan dapat memberikan sikap empati terhadap latar budaya orang lain. Titik balik pemahaman itu pada akhirnya akan mengurangi sikap primordialisme (sikap kesukuan yang berlebihan).

“Lebih jauh permasalahan sosial berupa konflik atas nama kelompok sedikit banyak akan tereliminasi yang dimulai dari bangku sekolah,” kata Bambang, finalis karya ilmiah LIPI dengan judul artikel Pembelajaran kooperatif multikultural dengan teknik empati budaya sebagai upaya mengurangi sikap primordialisme dalam pembelajaran sosiologi di SMA Cendana Pekanbaru.

Beragam konflik sosial yang terjadi di Indonesia melatarbelakangi isu yang ia angkat. Persamaan sikap menganggap kelompok sendiri. khususnya dengan latar budaya menjadi puncak atau inti permasalahan, itulah yang menjadi pemicu konflik sektoral.

Maka dari itu, Bambang menilai, pemahaman empati budaya melalui pendekatan multikultural sangat dibutuhkan sejak dini. “Pendekatan multikultural sebagai cara mengelola kelas yang beragam latar belakang budaya dan sosial diberi kesempatan dan diperlakukan sama untuk mengekspresikan budayanya, walaupun secara kuantitas akan terdapat minoritas dan mayoritas,” terang Bambang yang tengah menyelesaikan program S2 di Universitas Padang.

Sementara, empati budaya diartikan sebagai sikap menghargai dan ikut merasakan keberbedaan budaya orang lain sebagai sesuatu yang akan menguatkan keragaman itu sendiri. Tema empati budaya, kata Bambang, didasarkan pada fenomena beberapa kondisi seperti masih kuatnya alasan pemilihan teman dengan dasar kesamaan budaya, seloroh-seloroh budaya (stereotype) yang bila dibiarkan akan menjadi bom waktu, penggunaan simbol-simbol budaya yang kadang tidak peduli terhadap keberadaan budaya orang lain.

Fenomena primordialisme di kalangan pelajar SMA menurutnya kini, dapat digambarkan suatu sikap kekelompokkan yang masih kental dengan dasar kesamaan, dan masih menganggap kelompok lain adalah sebuah ancaman terhadap eksistensi kelompok sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam antar kegiatan ekstra, umpamanya pemilihan kelompok belajar di kelas selalu ingin kesamaan yang dijadikan pilihan.

“Urgensinya karena di SMA tempat saya mengajar terdapat sekitar 700 siswa dengan latar belakang agama, suku bangsa, budaya, latar sosial. Bila perbedaan tersebut tidak dikelola dalam pembelajaran maka sikap menghargai perbedaan atas keragaman tidak menjadi pembisaan ketika di luar sekolah,” papar pria kelahiran Tanjung Uban 9 Mei 1971 ini.

Lantas bagaimana primordialisme kini? “Gambaran primordialisme masih kental dan asyik dengan kelompoknya”, jawab Bambang yang aktif mengelola jurnal penerbitan di Pekanbaru.

Konflik-konflik kecil masih diwarnai dengan penyebab utama karena belum terbiasanya menghargai perbedaan kelompok lain. Di kalangan murid SMA Cendana sendiri, kata Bambang, fenomena promordialisme sendiri masih cukup kental. Inilah yang semakin mendorongnya untuk membuat suatu pola pengajaran ilmu sosiologi lebih menyenangkan siswa.

Metode yang ia gunakan yakni dengan pentahapan, pertama, pembelajaran dilakukandengan membagi kelompok menjadi kelompok multikultural yang merangkum beragam perbedaan. Tahap kedua mengkaji studi kasus yang berhubungan dengan kasus budaya.

Ketiga, penilaian budaya dengan setiap siswa bebas menilai budaya orang lain dan siap pula menerima kritikan tentang budayanya dari orang lain tanpa sakit hati. Tahap keempat, dialog dialek budaya  misalnya setiap anggota dalam satu kelompok membuat drama singkat dengan beragam dialog latar budaya siswa yang merupakan cirri khas kelompok itu.

Tahap kelima, setiap kelompok menampilkan pertunjukan budaya yang disepakati sebagai bentuk peleburan budaya antar anggota dalam kelompok. “Kongkretnya pembelajaran ini diwujudkan di dalam kelas dengan mengikuti pentahapan yang telah disebutkan di atas dalam materi masyarakat multikultural dalam pelajaran sosiologi,” pungkas Bambang.

Teka-teki Silang yang Mengasyikkan

Siswa sejauh dengan menggunakan alat ukur berupa angket dan wawancara merasakan dengan pembelajaran ini menjadikan meraka belajar menghargai budaya orang lain dan belajar menerima perbedaan orang lain.

Dari gambaran beberapa siswa berikut ini, paling tidak cukup menggambarkan konsep lima tahap yang dipaparkan Bambang sebelumnya berhasil. Menurut Gordy Putra, siswa Kelas 12 IPS VI, siswa membentuk kelompok masing-masng empat anggota. Setelah itu mereka diperintahkan membuat teka-teki silang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang isu sosial.

“Tiap kelompok menukar teka-teki silang itu,  dijawab dan dibahas bersama dengan Pak Bambang,” imbuhnya. Meski metode belajarnya tidak terlalu mengacu pada buku (textbook), sanga guru selalu memberi asupan teori dasar sosiologi yang sangat baik dan jelas.

Selain pengetahuan yang luas, dimata siswanya Bambang adalah sosok yang murah senyum. Inilah yang membuat siswa tertarik kepada pengantar penelitian sosiologi yang jadi “menu” ajar Bambang.

Galih Prima Dhamara siswa Kelas 12 IPS I menambahkan metode pembelajaran ala guru sosiologi di sekolahnya harus menjadi referensi guru mata pelajaran sosial lain.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: