Perempuan dan Polemik Kekerasan Simbolik

“Seorang siswi kelas 1 SMP digagahi lima pemuda mabuk di Cisaat, Sukabumi.”

Potongan kalimat dalam lead berita kriminal itu, pasti sudah tak asing di telinga Anda bukan? Berapa banyak Anda menemukan kalimat yang mirip seperti itu di koran, radio dan tv? Tentu tak terhitung. Tapi, bukan itu yang ingin saya tanyakan. Coba Anda perhatikan, apa yang salah dari bunyi bait itu?

Fokus: digagahi » menggagahi » gagah

Inilah yang hendak saya dan Anda (pembaca) bahas. Jika Anda seorang perempuan, saya yakin, usai membaca habis tulisan ini akan sangat tidak setuju dengan pilihan kata ‘menggagahi’. Mengapa?

Baik, kita mulai dari hubungan perempuan dan abad baru sensualisme media. Saya sederhanakan menjadi ‘perempuan media’. Sadar atau tidak, di ruang publik, kekerasan fisik (physical violence) di dalam rumah tangga tampak telah diperkokoh lagi dengan kekerasan simbolik (symbolic violence).

Kekerasan simbolik menemukan tempatnya yang paling subur dalam media massa, sebab media memungkinkan terjadinya berbagai corak kekerasan ‘tak tampak, tapi terasa’ (seperti distorsi, penyelewengan, pemalsuan, plesetan, pembelotan, dll).

Kita bisa menemukan corak kekerasan simbolik yang muncul dalam bentuk penggunaan bahasa dan foto atau gambar yang muncul di media (cetak maupun elektronik) yang memosisikan perempuan dalam stereotip body and beauty, not brain.

Dalam konteks itu, bahasa atau gambar kebanyakan secara ideologis mengandung makna yang merendahkan, menghakimi, dan bahkan menghina. Penggalan lead berita kriminal yang saya tampilkan tadi di awal adalah umpamanya.

Kata ‘menggagahi’ adalah penyesatan yang berdampak psikologis buruk juga resistensi perempuan di mata publik rendah. Seorang bajingan yang jelas-jelas telah memerkosa perempuan, diberitakan di media sebagai ‘menggagahi’ (perilaku yang gagah). Bagaimana mungkin kejahatan dibilang kegagahan? Dan kebejatan dibilang keperkasaan atau kejantanan? Di sini jelas bahasa telah terdistorsi dan termanipulasi.

Sebagai ahli komunikasi (yang belum ‘lulus’ secara akademis), saya kira bahasa-bahasa yang merendahkan derajat perempuan seperti itu, merebak seolah-olah tubuh korban (perempuan) sebagai ‘barang seni’ yang harus dideskipsikan atau disorot tanpa rasa empati terhadap saudara korban atau Anda, sebagai perempuan lain (kalau yang lagi baca pria, konteks menyesuaikan ya).

Bahasa di media yang seperti itu, menampilkan perempuan dalam cermin dan citra yang telah terdistorsi. Ini sama saja dengan kekerasan simbolik berupa kata-kata kasar, hardikan kepada perempuan. Ironisnya, keadaan itu seolah sudah dianggap biasa.

Barangkali Simone de Beauvoir benar bahwa perempuan merupakan the second sex, atau meminjam istilah Haig Bosmajian yang menyebut posisi perempuan sebagai warga negara kelas dua (the second class citizen).
“Di negeri kami, tubuh perempuan bukan milik perempuan. Dada dan paha sudah dijatahkan buat biro iklan dan wartawan…” – Ariel Heryanto

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: