Sex Addict Perlukah Psychiatric?

Chicago – Suaranya bergetar saat kata maaf itu terucap di hadapan publik dunia, wanita yang dinikahinya. Curahan emosi Tiger Wood tak biasa. Begitu biru, sang pemburu wanita itu niat bertobat.

Tekanan udara di tenggorokan seolah kedap dan berat dalam mengeja barisan kalimat pengakuan dosa perzinahan dirinya dengan beragam wanita. Selain istri, kerabat, dan para penggemar, Wood memelas ampunan dosa kepada pihak sponsor yang dirugikannya.

“Saya tidak setia, saya berselingkuh dan saya berbohong. Perbuatan saya itu tidak bisa diterima. Saya telah menyakiti istri, anak, ibu saya, keluarga isteri saya, teman saya, yayasan yang saya dirikan dan semua orang di dunia yang mengagumi saya,” bunyi rentetan kalimat yang kadang tersendat, terpotong emosi penyesalan.

Golfer sohor Tiger Wood dalam sekelebat pengakuan, tengah menjalani terapi bersih dari kecanduan seks. Berkaca soal skandal seks Tiger Wood, beberapa ahli menyadari bahwa sosok lelaki flamboyan dan penakluk harus kuasa mengerem ‘magnet’ berlebihan kepada wanita.

Baru-baru ini penelitian sejumlah psikolog American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Amerika Serikat menyebutkan bahwa perlu ada perhatian khusus ikhwal kecanduan seks yang semakin menjamur. Terbukti, perselingkuhan, skandal seks ‘ilegal’, merupakan anak persoalan seseorang sangat addict berkegiatan seks.

“Kecanduan seks semakin umum. Merambah pada berbagai lapisan orang. Kecanduan seks atau hypersexsuality¬† adalah kelainan psikologis,” ujar Dokter Ahli dari Universtitas Totonto, Ken Zucker seperti dicatut dalam Reuters Selasa (23/2).

Beberapa ahli mendiagnosis bahwa kecanduan seks seseorang definitif pada gangguan psikologis dalam dirinya. Faktor penyebabnya sangat beragam, layaknya orang yang memilii gangguan mental dan kerap berurusan dengan psikiater.

“Namun, konsep ini kontroversial dan masih belum diakui. Bicara apapun tentang seks dan gender domain dengan isu kontroversial,” keluh Zucker yang bergabung dalam kelompok pengkaji manual tentang hubungan seks addict dengan perilaku psikologis manusia.

Tiap individu termasuk Tiger Wood, sambungnya, mempunyai gejala klinis sehingga masuk dalam kategori hyper-sexuality. Baik pola kehidupan seks yang berlebihan atau justru mengalami krisis. “Tiap orang punya pendapat berbeda soal seks. Inilah yang membentuk batas garis isu naik-turun. Bergantung dari mana Anda menarik garis,” imbuh Zucker.

Di sisi lain, beberapa psikolog menentang diagnosis yang dipaparkan kelompok Zucker. Blok kontra menganggap sebaliknya. Bahwa seks bukan suatu kecanduan yang memiliki dampak kimia langsung pada otak. “Diagnosis kecanduan seksual menggambarkannya sebagai suatu kebiasaan atau suatu keharusan, mirip dengan perjudian tak terkendali,” protes psikolog dari Universitas Medical Center Hackensack, New Jersey, Craig Fabrikant.

Menurut diagnosis Fabrikant, studi kasus cenderung menitikberatkan pola perilaku yang mendeskripsikan sifat obsesif-kompulsif. Jika seseorang yang gemar berpetualang seks lantas ia dirawat layaknya mereka yang kecanduan obat-obatan, akan sangat sulit. Diagnosis kecanduan seks berarti memerlukan pula obat penenang untuk menangkal kecemasan pasien.

“Padahal yang perlu ditelaah adalah teknik terapi guna menangani dorongan tersebut (seks),” tutur Fabrikant.

ik5

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: