Ketika Pasar Tradisional di Ujung Punah

Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengabulkan gugatan Carrefour, seakan memantapkan hegemoni pasar modern di industri ritel Indonesia. Apakah pasar rakyat menuju kepunahan?

“Sudah dapat dipastikan pasar tradisional akan mati semua dan tinggal tunggu waktu saja. Yang bisa menolong pasar tradisional dan industri adalah niat dan keberpihakan dari pemerintah,” kata Juru Bicara 9 Aliansi Multi Industri Putri Kuswisnu Wardani dalam sebuah diskusi jejaring sosial Facebook, kemarin.

Putri pesimistis para pedagang di pasar tradisional dapat mengimbangi pasar modern, yang notabene peritel besar pemilik pasar modal hipermarket. Pasar tradisional dinilai tak mampu melakukan minus margin untuk menarik konsumen. “Alasannya, tidak ingin menekan produsen dan distributor,” paparnya.

Hal senada diungkapkan pengamat perkoperasian Subiakto Tjakrawerdaja. Menurutnya, perkembangan pasar modern yang letaknya berdempetan, mengancam eksistensi pasar tradisional. “Kalau pemerintah tidak mengontrol penguasaan kapitalis ini, maka pasar tradisional akan mati,” ujarnya di Jakarta baru-baru ini.

Kini pasar tradisional sudah mulai ditinggalkan. Banyak faktor yang mempengaruhi masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah yang menjadi pangsa pasar utama selama ini.

Salah satunya adalah kemunculan pasar modern yang menjamur-menggurita hingga ke pelosok daerah. “Anda bayangkan saja, sekarang pasar modern semakin luas. Ditambah bisnis waralaba mini market yang hampir tiap satu-dua kilo meter ada,” tutur dia.

Subiakto menilai, meski karakter dasarnya sulit diubah, pasar tradisional adalah salah satu lokal genius yang hingga kini masih bertahan dan mencoba mengembangkan diri agar mampu bersaing di tengah arus modernitas dan bombardir pasar modern. “Masih ada daya saing di sana. Pemerintah bisa mendorongnya menjadi persaingan bisnis yang sehat. Ini perlu disinergikan antar pihak terkait,” tuturnya.

Persaingan di industri ritel tampaknya masih terus berlanjut. Meskipun ada ketimpangan, antara pihak bermodal raksasa yang diwakili pasar modern dan pihak bermodal mini yang ditunjukkan oleh pasar tradisional. Pasar modern seakan mampu menguasai medan laga, hingga ke urusan birokrasi dan hukum.

Lihat saja keputusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Rabu (17/2) yang mengabulkan gugatan Carrefour Indonesia. Peritel modern ini menggugat putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menilai adanya Pelanggaran Praktek Monopoli dan/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Majelis hakim dalam keputusannya mengatakan tidak menemukan dugaan pelanggaran praktik monopoli dan persaingan tidak sehat atas akuisisi PT Alfa Retailindo oleh Carrefour.

Majelis hakim tidak sependapat dengan kesimpulan KPPU, sebab pangsa pasar jauh di bawah 50%. Sehingga Carefour tidak terbukti melanggar Pasal 17 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (1) huruf a.

Berdasarkan hasil survey AC Nielsen, majelis hakim berpendapat tidak terdapat pemusatan kekuatan ekonomi seperti yang dilaporkan KPPU melalui putusan perkara No. 09/KPPU-L/2009.

Terkait kasus ini, KPPU mengajukan kasasi ke MA atas dugaan adanya kecurangan. Menurut mereka, survey AC Nelsen yang dijadikan dasar keputusan Majelis Hakim merupakan riset pesanan Carefour.

Di tengah bergulirnya kasus ini, Subiakto menegaskan bahwa pasar tradisional sejatinya memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern.

Lokasi yang strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, juga harga yang relatif murah. “Sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban penjual dan pembeli merupakan keunggulan pasar tradisional,” paparnya. Ia menilai, pola harga luncur merupakan karakter khas pasar tradisional yang bisa dijadikan aset.

Namun, ia juga mengakui banyak faktor desain dan tampilan pasar tradisional kurang eye catching. Dari segi atmosfir, tata ruang, tata letak, keragaman dan kualitas barang serba terbatas. Belum lagi promosi penjualan, jam operasional pasar yang terbatas, serta optimalisasi pemanfaatan ruang jual masih perlu banyak pembenahan.

Kondisi ini diperburuk citra pasar tradisional yang dihancurkan segelintir oknum pelaku dan pedagang di pasar. Maraknya informasi produk barang yang menggunakan zat kimia berbahaya serta relatif mudah diperoleh di pasar tradisional, praktek penjualan daging oplosan, serta kecurangan-kecurangan oknum dalam aktifitas penjualan telah meruntuhkan kepercayaan konsumen terhadap pasar tradisional.

Proses transaksi lewat harga luncur di pasar tradisonal yang becek dan sumpek, sebetulnya dapat menciptakan suasana realitas asli sebuah kehidupan sosial.

Adapun runtuhnya pasar tradisional akan meruntuhkan bangunan sosial, ekonomi kerakyatan itu sendiri bahkan bisa merembet pada pudarnya sosialitas masyarakat.

ik5

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: