Menunggu Pagi di Kota Orang

22.36 WIB
“Wah bis ke Jakarta terakhir jam 8 malam Mbak,” ujar seorang tukang roti bakar terminal Baranang Siang, Bogor kepadaku.

Aku hanya tersenyum, senang bahkan di BAB terakhir bisa menikmati sisa-sisa petualangan ini. “Sepertinya menunggu pagi di sini saja,” gumamku membuat keputusan dadakan entah hasil diskusi kapan.

“Kalau mau dari sini bisa naik odong-odong, bayar Rp 300 ribu, atau pakai taxi Rp 150-an,” terang lelaki paruh baya itu sambil membenahi selai roti dan perabot dagangannya.

“Memangnya si Mbak dari dan mau pulang kemana?” timpal seorang pria kurus berkumis membawa jinjingan hitam penasaran sedari tadi menelisik heran tampilanku; si puan manis dengan ransel besar di punggungnya.

Aku hanya senyum “Berpetualang,” sahutku sekenanya. Meski begitu, si pria kurus malah semangat mengajukan beberapa pilihan pulang ke Jakarta yang sesungguhnya tak mau kupilih apapun bentuknya. Aku tak mengerti, padahal tak ada segores kepanikan di wajahku atau rengekan ala pesakitan seorang pembantu.

“Mungkin Mbak mau cek travel, mana tahu masih ada, mari saya antar,” dia menawarkan sambil membungkuk dalam-dalam tanda sopan. Tanpa ragu kusambut ajakannya itu.

Singkatnya, sepuluh menit di Kota orang, sudah tampak ‘paguyuban’ penemu anak hilang. “Saya tidak masalah jika tidak tidur sampai pagi,” aku mencoba menenangkan kekhawatiran sekaligus keheranan mereka dengan beberapa diskusi tentang sebuah jalan sebagai opsi.

“Di sini saja menunggunya Mbak, saya jaga sampai pagi,” sambung Mas satpam sebuah Mall besar di samping terminal bertubuh gempal.

Belum sempat kujawab, “Tunggu aja di sini Mbak, bis ada baru jam lima subuh, nggak apa-apa kok,” seorang Ibu lembut membawa teh hangat untuk si bandel ini. Waw, kebetulan aku haus dan kedinginan, tanganku terbuka lebar tanpa ternafikkan. Bertubi-tubi apakah ini Yang Maha Mulia, Gusti? Bersyukur aku padamu. Hanyalah itu.

Hmm, masih ada orang baik dan tulus di dunia, negeri, kota ini. Bumi ini masih menyimpan cerita tentang manusia. Segala isi cerita duniawi hanya manusia dan produk buatannya. Aku jadi ingat Pram dalam bukunya ‘Bumi Manusia’.
Dan perbincangan aku dengan beberapa saudara Kota orang ini akan berlanjut hingga pukul lima.
Ya Syukurillah..

*ik5

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: